Senin, 24 Desember 2012

Wind and Leaves |Chaper 2|


Chapter 2-

‘’jadi kau tadi menerimanya begitu?’’tanya Soo sambil menahan tawanya
aku mengangguk sambil merapikan rambutku, kami baru saja keluar dari jam pelajaran kami, kini sudah pukul 11a.m
‘’makanya lain kali jangan suka melamun lagi’’ujarnya sambil menarik tali tas biolanya yang sedikit longgar
‘’ne! kau dan yang lainnya juga, ‘’jawabku menggerutu
‘’wah sayang sekali jadi nanti malam kau tak ikut kerumah Ji?’’
‘’aku lihat dulu nanti jika aku sempat aku pasti mampir kok tenang saja’’
iapun tersenyum begitu manisnya, aku menjadi teringat dengan ucapan Minho dulu
Sulli Splash-
‘’aku menginginkan seorang Yeoja yang memiliki senyum manis sehingga membuat hidupku lebih terasa menyenangkan’’
‘’mwo? Senyumku tak manis?’’
‘’ani! Senyummu masam seperti jeruk yang belum matang’’
‘’YA!! Oppa Minho jahat!!!’’
Sulli Splash End-

           Soo menatapku dengan serius, kok tiba-tiba dia sudah berdiri didepanku, ‘’waeyo Sulli-ah?’’tanyanya heran ‘’mwo? Ani! Gwenchana’’jawabku yang baru tersadar dari lamunanku, akhir-akhir ini aku memang suka melamun sendiri dan aku selalu teringat dengan oppa Minho. ‘’Youngie?’’panggilku ketika Soo sedang berkaca didepan kaca besar didekat papan pengumuman sekolah ‘’ne? waeyo?’’tanyanya sambil masih merapikan rambutnya. ‘’kita temui Ji yuk?’’tawarku sambil mendekatinya juga ikut berkaca disampingnya, ‘’yuk!’’jawabnya sambil menggenggam tanganku, kemudian kami berjalan pergi keluar.
‘’drrrttt drrtttt’’
Handphone ku bergetar disaku celanaku, aku merogohnya kemudian membukanya untuk melihat pesan masuk
 @Hyuna  | kau kemana saja sih? Aku sudah menunggumu untuk pemotretan minggu kemarin |
aishh Yeoja yang satu ini terus saja menggangguku berharap aku datang ke apartmentnya untuk membicarakan pemotretan
 @Sulli  | Ya!! Sudah kubilang berapa kali kalau aku menolaknya! |   balasku kesal
           Hyuna adalah salah satu anggota paparazzi, dia biasanya suka menyamar dan mengunjungi campus-campus tertentu untuk mencari bakat yang ia cari. Sialnya ketika aku sedang mencoba bermain biola ditaman campus, dia memotretku dan sampai sekarangpun aku dituntut agar mengikuti pemotretan. Ia bilang sih pemotretan yang cukup terkenal aku juga punya kesempatan untuk ke SMTown, dia bilang aku bisa bertemu Minho tapi sayangnya aku tak tertarik.
 ‘’Drrrttt Drrrttt’’
 @Hyuna  | YAA!! Besok siang datanglah! Aku tunggu uangnya kami bayar dimuka |
aissshh benar-benar tidak mau menyerah, lebih baik aku tak membalasnya, langsung kututup handphone ku dan kumasukkan lagi kedalam saku
‘’Namjachingumu ne?’’tanya Soo meledekku
‘’mwo?’’tanyaku tak mengerti
‘’yang barusan mengirim pesan’’
‘’ani’’
‘’ahh Jonghyun oppa ne?’’
‘’ah ani Youngie!’’jawabku sambil mengacak-acak poninya
           ‘’Youngie!!! Ji!!’’panggil seseorang dari kejauhan seperti suara Yeoja. ‘’ne! Jii disini’’ujar Soo sambil melambaikan tangannya ke seorang Yeoja berbaju merah yang berlari menuju kearah kami, aku tak tahu itu siapa pandanganku kabur jika harus melihat kejauhan, ‘’Jiyeon?’’tanyaku sambil masih mengusap-usap kulit mataku dan mencoba melihat lagi

‘’omo! Akhirnya kalian keluar juga, ada yang mau bicarakan’’ucapnya, ah ternyata ia benar Jiyeon
‘’mwo? Mwo?’’tanya Soo tidak sabaran
‘’baru saja . .’’
‘’ne?’’
‘’aku . . .’’
‘’ne?’’
‘’bersama . . .’’
‘’aduh kelamaan!!’’ujarku
‘’aku menjadi Yeojachingunya oppa Seung’’
‘’mwo?’’tanyaku terkejut, Soo juga sama sepertiku tapi aku melihat raut wajahnya yang sedikit kecewa sepertinya sedih setelah mendnegar ucapan Jiyeon barusan
‘’mwo? Wah Chukkae!’’ucapku sambil memeluk Jiyeon, aku sengaja memeluknya duluan biasanya kami berpelukan selalu bertiga tapi pasti ada yang salah dengan Soo jadi aku membiarkannya saja dulu aku yakin ia butuh waktu.
‘’bagaimana itu bisa terjadi? Omo Jiyeon-ssi ku sudah punya Namjachingu sekarang’’ucapku lagi,
           Jiyeon tersenyum senang memandangku kemudian terheran ketika melihat Soo yang berdiam diri saja. ‘’Yoooouuuuuunnngggiiiiieeeeee’’ucap Ji dengan lambat, Soo seketika merubah raut wajahnya begitu bening dan mengeluarkan senyum manisnya kemudian ia juga memeluk Jiyeon seperti aku memeluk Jiyeon tadi ‘’Chukkae Chukkae’’ucap Soo begitu senangnya. Aku tak mengerti tapi pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan aku akan bicara padanya nanti.
*
           Sebelum kami pulang keruma, kami mampir dulu di Coffe Café yang letaknya tak jauh dari campus untuk berbincang-bincang bersama sebentar. Pandanganku tak lepas dari raut wajah Soo yang selalu berubah-ubah daritadi. Suasana menjadi begitu dingin, gerimis mulai berdatangan dan entah mengapa kami bertiga hanya diam saja. Sepertinya Jiyeon juga menyadari sifat Soo yang sedikit aneh, jadi aku harus menghentikan kecurigaannya sebelum ia menyadarinya lebih lama ‘’ah! Mashita!! Enak sekali’’ucapku sambil meminum sedikit minuman kopi yang dicampur dengan susu yang tadi aku pesan, begitupun Soo dan Jiyeon masing2 tangan mereka memegang secangkir kopi yang berbeda rasa.
‘’hei Ji kau tau tidak, semalam aku baru saja baca resep kue yang baru dibeli umma’’ucapku lagi dengan semangat
‘’mwo? Aku pinjam aku pinjam jebaaall’’jawab Jiyeon menaruh cangkir kopinya dan mengulurkan tangannya kearahku
‘’ne, besok saja ne aku tak membawanya hari ini’’ucapku tersenyum dan menyempatkan mataku untuk melirik Soo yang terus-terusan diam
‘’Youngie, kau mau mencoba biola besar milik ayahku? Aku pernah sih mencoba memainkannya tapi belum sempat karena terasa berat haha’’ucapku bercanda mencoba mengeluarkan tawanya
‘’jinja? Nee lain kali aku mampir kerumahmu’’jawabnya singkat, aku masih melihat senyumnya sih tapi kali ini senyumnya lebih lemah
‘’kau ada masalah Soo?’’tanya Jiyeon blak-blakan membuatku terkejut mendengarnya
‘’ne! ne!’’jawabku menghentikan jawaban Soo, ‘’dia tadi tidak sengaja menjatuhkan tongkat biolanya ke mulut Jonghyun hahahaha’’sambungku berbohong sambil tertawa berhasil, aku membuat Jiyeon tertawa dengan jawabanku barusan
‘’haha, bisa saja kau mengarang Sull’’ucap Soo sambil buru-buru menghabiskan kopinya
‘’drtttt drrrttt’’
           ah Handphone ku bergetar lagi, dengan kesal aku merogohnya
 @Jonghyun  | jangan lupa ne?
‘’
aiisshh, Namja ini lagi! Lebih baik aku tak membalasnya, buang-buang waktu saja
‘’bagaimana nanti malam? Kalian berdua saja ne? aku janji akan datang kok tapi agak lama’’ujarku sambil sibuk menghapus pesan2 yang tidak perlu diHandphone ku
‘’ne bagaimana Yooungie? Kau datang duluan saja ne kerumahku?’’tanya Jiyeon
‘’ummm, sepertinya aku juga akan sedikit telat, gwenchana?’’jawab Soo
raut wajah Jiyeon tampak sedih,
‘’gwenchana, tapi datang ne?’’
‘’ne, tenang saja’’
*
                   ‘’ting tong, ting tong’’aku memencet bel rumah tapi tidak juga dibuka sedari tadi, kemana sih orang2 dirumah, kulirik jam tanganku yang baru menunjuk ke pukul 2p.m ternyata sudah sore tidak terasa sekali kami lama sekali tadi di Coffe Café. ‘’ckrekk ckrekkk’’suara pintu dibukakan, seorang namja tinggi berdiri tegak didepanku ‘’mwo! Siapa kau! Waeyo dirumahku?!’’ujarku memarahinya. ‘’omo, gwechana? Sepertinya kau habis mabuk?’’tanyanya pelan, argghhh aku menggeram cepat2 aku mendorongnya lalu masuk kedalam rumah, ‘’ummaaaaa……appa……’’panggilku sembari aku melepas sepatuku dan duduk di sofa ruang tamu.
           Namja tadi menghampiriku dan duduk didepanku, ‘’umma……’’panggilnya mengikuti nadaku sewaktu aku memanggil umma dan appa tadi. ‘’siapa kau?!!’’bentakku aku tak tahan lagi dengannya pertama ali bertemu saja dia sudah membuatku jengkel. ‘’perkenalkan nona Sulli-ah aku Taemin’’ucapnya, suaranya memang seperti anak kecil tapi tubuhnya tinggi aiihh aku kira tadi uppa dan umma ingin menjodohkanku lagi. Aku menghea nafas Karen atenang mendnegar pernyataannya barusan, ‘’dan siapa kau Taem?’’tanyaku lagi sambil memain-mainkan hp ku. ‘’aku kan sepupumu masa kau tidak ingat?’’tanyanya balik.
           Aku tidak sengaja membanting handphone ku ke lantai dan menatapnya dalam-dalam, ‘’mwo? Itu kau?’’tanyaku lagi, sampai aku baru menyadari senyuman begitu lebar terlukis dibibirku ketika kuletakkan kedua telapak tanganku kepipiku. ‘’ne, yang semasa kecil kau menendang bokongku membuatku terjatuh ke kolam’’gerutunya sambil menjulurkan kakinya kemeja dan merogoh tasnya. Aku tertawa dan bangkit dari dudukku akupun memeluknya dengan kencang, sudah lama sekali aku tak melihat Sepupuku yang satu ini.
           ‘’arggh arghh eon sakit eon!’’ujarnya seraya mencoba melepaskan lenganku yang masih memeluknya dengan erat, setelah aku mendnegar nafasnya ngos-ngosan akupun melepasnya. ‘’omo kau tinggi sekali sekarang’’ucapku sambil sibuk menyamakan tingginya dan tinggiku. ‘’minum susu donk eon, jangan lupa lari pagi juga’’jawabnya sambil mengeluarkan senyumannya. ‘’hei kau sudah bertemu appaku dan ummaku?’’tanyaku berjalan melihat ketangga untuk mengintip lantai 2. ‘’ne, tadi pagi sih katanya mereka hari ini pulang malem’’
aku berjalan kedapur untuk mengambil jus jerukku yang kubuat kemarin sore.
*
Sooyoung POV.
           Hatiku terasa hancur mendnegar pernyataan Jiyeon tadi, kini aku hanya bisa menangis aku salah selama ini mengira oppa Seung menyukaiku. Apa aku memang tidak ditakdirkan untuk bersama orang yg aku cintai? Baiklah, umma mengajariku sedari dulu untuk mempercayai takdir, aku mempercayainya memang aku tidak ditakdirkan untuk bersama orang yg aku cintai.
           Dengan cepat aku bergegas berlari kekamarku dan mengunci pintunya, saat ini aku membutuhkan waktu untuk menyendiri aku bahkan tidak yakin apakah nanti malam aku akan datang kerumah Jiyeon. Aku berjalan kelemari dan mengambil sebuah foto yg suda kusut yg kusimpan di antara tumpukan pakaianku

Itu adalah foto oppa Minho dan seseorang aku tidak yakin apakah dia Yeoja atau Namja. Tapi mereka kelihatan sangat akrab. Foto itu aku temukan ketika aku sedang melihat daftar kelulusan sekolah dan tiba-tiba saja foto itu bertebangan dan jatuh didepan sepatuku. Oppa Minho kelihatan tampan sekali, jadi aku memutuskan untuk menyimpannya saja.
           Air mataku terus mengalir deras. Aku juga sudah lama ingin bersama orang yang aku cintai, mungkin aku tidak ditakdirkan bersama oppa Seung. Kurogoh ranselku yang tergeletak diranjang untuk mengambil dompetku, lalu kuletakkan foto itu kedalam dompetku.
‘’dok dok dok’’tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarku, ah aku rasa waktuku untuk menyendiri sudah cukup aku akan keluar dan mengobati luka hatiku.
           Aku berjalan menuju pintu dengan menyeret telapak kakiku yang masih enggan untuk keluar. ‘’ckrek ckrek’’ ternyata eonni Hyo yang mengetuk pintuku. Aku mengusap air mataku yang masih tersisa disekitar mataku, ‘’waeyo? Ya! Kau menangis?’’tanya eonni Hyo menuntutku, ‘’mwo? Ani aku . . .’’ucapku terputus karena jari telunjuknya mendarat dibibirku. ‘’aku sudah dengar kok. Seung baru saja pulang, dia bilang tadi dia menjadi Namjachingunya Jiyeon-ssi’’ucap eonni Hyo sambil mengelus kepalaku
‘’syukurlah’’jawabku sambil menyunggingkan senyumku yang terasa berat aku juga menahan air mataku yang mulai membendung lagi
‘’gwenchana, hentikan tangisanmu. Aku akan bantu bagaimana caranya supaya kamu tidak sakit hati lagi’’
           akupun langsung memeluk eonni Hyo dengan erat. Airmataku yang tadi membendung akhirnya keluar lagi dan membasahi pundaknya. Kurasakan tangan lembutnya membelai rambutku. Eonni Hyo memanglah bukan orang yang terlalu perhatian bila di tempat umum, tapi jika sudah dirumah seperti ini, ia bahkan juga akan ikut menangis seakan a merasakan apa yang dirasakan keluarganya.
*
           Sore ini matahari masih bersinar terang, langit begitu cerah tak ada sedikit awanpun yang menghalangi langit. Aku duduk dikursi depan rumah sambil memandangi matahari sore yang sebentar lagi terbenam, kini pukul 6p.m aku juga membawa handphoneku dan kuletakkan dimeja depan kursi yang aku duduki.
‘’Youngie??’’panggil eonni Tae dari rumah, ia berjalan kearahku
‘’waeyo?’’tanyaku sambil menegakkan tubuhku
‘’eonni ada acara mala mini kepesta ulangtahun teman, kau jadi kerumah Jiyeon-ssi?’’
aku hanya mengangguk lemas
‘’eonni sudah masak Sup buntut didapur, eonni simpan dilemari makanan jika kau lapar makanlah’’ucapnya lagi
‘’ne, gomapta eonn’’jawabku
           Eonni Tae lalu pergi mengambil sepeda berwarna biru tua miliknya lalu pergi, tampak eonni Hyo berdiri didepan pintu rumah sambil mengawasiku, ‘’eonn?’’panggilku, ia tampak membawa 2cangkir minuman dan membawanya kearahku, ‘’nih Lemon Tea buatanku sendiri katanya sih bisa membuat diri menjadi tenang’’ucapnya seraya menydorkan salah satu cangkirnya padaku, ‘’gomapta’’jawabku dan menaruh cangkir itu dimeja disamping handphoneku.
‘’bruk’’eonni Hyo dengan santainya merebahkan tubuhnya dikursi kayu yang sudah lumayan tua ini membuatnya berbunyi sedikit keras
‘’pelan-pelan eon duduknya’’ucapku, tanganku sibuk mencari gagang cangkir yang aku taruh tadi aku berniat untuk mencobanya
‘’eh! Aku kan ada kompetisi dance minggu depan, kau datang yah’’tawar eonni Hyo
‘’eh? Tapi kan aku juga ada acara music minggu depan, eon sendiri juga tdak mau datang kan keacara musikku’’ledekku
‘’hanya bercanda chingu’’
*
           Aku resah sekali, apa mala mini aku akan datang kerumah Jiyeon. Sekarang baru pukul 7p.m jacketbulu ku sudah menututupi tubuhku, aku juga mengenakan jeans biru donker. Aku bingung jadi aku duduk saja dulu di anak tangga paling bawah untuk memikirkannya sekali lagi.
‘’eh? Youngie?’’ucap seorang Namja disampingku tiba-tiba, aku tak ingin melihat wajahnya ia pasti oppa Seung


           ‘’hei mau kemana Saeng? Malam-malam begini sudah memakai jacket bulu tebal perasaan cuaca kan panas’’sambungnya membuatku sedikit jengkel. Sebenarnya bukan salahnya juga sih jika ia menjadikan Jiyeon sebagai Yeojachingunya. Kulipatkan lenganku melingkari kakiku yang kutekuk sambil menahan air mata yang mulai membendung lagi.
‘’ya! Kau tak apa?’’tanya oppa Seung lagi, kini aku benar-benar tak bisa membendung air mataku lagi kubiarkan saja airmataku berjatuhan mulai membanjiri wajahku, karena aku tak ingin oppa melihatnya jadi aku menenggelamkan kepalaku diantara kedua lututku
‘’kau ada masalah?’’tak henti-hentinya oppa Seung terus saja menuntutku untuk menjawabnya
           ‘’ya! Ceritakan saja, aku pasti akan membantumu’’tawarnya lagi. Aku merasakan tangan dingin oppa Seung memegang telapak tangan kiriku yang kulipat untuk membantuku menenggelamkan kepalaku, langsung saja aku terkejut dan aku langsung aku bangkit dan membuang tangannya menjauh dariku, tampak arutnya sangat terkejut. ‘’waeyo? Waeyo oppa harus Tanya! Urus urusan oppa sendiri!’’ucapku sedikit membentak, matanya terbelalak mendengar ucapanku barusan.
           Nafasku tidak tenang, aku langsung bergegas pergi darinya, aku mendengar panggilannya berkali-kali tapi tak kuhiraukan aku lebih memilih untuk pergi saja dari sini. Akhirnya aku sampai diluar, aku berjalan semakin lama semakin cepat, tapi kurasa akan buang2 waktu aku merasa aku seperti orang yang sedang dikejar mimpi buruk kakiku menuntunku terus berjalan dan aku tahu ini jalan kearah mana, kerumah Jiyeon-ssi.
*
           Suasana begitu sepi, sepertinya eonni Seo belum pulang hanya ada Jiyeon dirumah. Kami duduk dikamarnya sambil membaca buku komik milik Jiyeonssi. ‘’kukira kau ta datang Youngie’’ucapnya pelan sambil membolak-balikkan halaman komiknya, ‘’ne, tapi aku kan sudah bilang aku akan senang’’jawabku singkat, mataku terus tertuju pada setiap huruf2 yang ada dikomik ‘’Hi Miiko’’yg kini ditanganku. ‘’ne, oh ya kamu mau mencicipi cooki ku duluan atau menunggu Sulli ah?’’tanyanya menututp komiknya
‘’ummm,, ani nanti menunggu sulli aja’’
‘’apa dia benar-benar datang?’’
‘’aku percaya padanya, selama ini ia selalu membuktikan perkataannya kan’’
‘’ne, kau benar juga’’
           Suasana langsung berubah ketika saengnya Jiyeon-ssi sudah pulang, ‘’aaaakuuuuu puuu---llllllaaaaaannnggggggg’’ucap seseorang dengan nada lambat dari luar pintu kamar Jiyeon suaranya masih sangat muda sepertinya itu Saengnya Jiyeon, ‘’mwo? Baekh bagaimana pertandinganmu kali ini?’’tanya Jiyeon seraya berjalan kearah pintu kamarnya, tangannya meraih gagang pintu dan membukanya
‘’Chukkae!!’’ujar Baekhyun sambil memeluk Jiyeonssi dengan erat’’

~To Be Continued~

Wind And Leaves |Chapter 1|



Title                           : Wind and Leaves
Author                      : Vadeliya S. Saputri ^^
Cast                           : Choi Minho,Sooyoung,Sulli,Jiyeon,Seung Ho,Kwon Yuri
Another Cast        : Member SNSD, Shinee, F(x), Exo, T-ara, Super Junior
Genre                       : Sad, Romance
Length                     : Chaptered


Dont Be Silent Readers please^^
Do Leave A Comment



CHAPTER 1.

Sooyoung POV.
            ‘’umma??!!!!!’’teriakku diikuti dengan air mataku yang perlahan-lahan berjatuhan membasahi selimut yang dikenakan ummaku dirumah sakit. Alat-alat bantu pernafasannya mulai dilepas membuatku semakin terisak. Tanganku masih menggenggam tangan ummaku dengan erat, sambil terus menangis. Pundakku mulai terasa dielus-elus dengan lembutnya dari belakang sementara aku masih menatap kepergian umma. ‘’sabarlah soo, umma mu akan bahagia disana’’ucap seorang Yeoja dari belakangku, aku langusng berbalik badan melepas genggaman tangan umma dan memeluk eonni Taeng yg sedari tadi memang sudah berada dibelakangku sambil mengeluk-elus pundakku.
            ‘’umma’’ucapku lagi tapi kali suaraku lebih rendah karena aku semakin tak sanggup mengucapkan kata itu. ‘’sudahlah’’jawab eonni Taeng menenangkanku sambil mengusap kepalaku dengan lembutnya, ari mataku semakin deras. Bagaimana aku bisa menerima kenyataan yang begitu pahit seperti ini? aku takkan bisa seperti ini terus. ‘’kau akan tinggal bersamaku tenang sajalah, kau masih punya aku, Eonni Hyo, juga ada Seung Ho dan appamu juga akan segera datang tidak lama lagi’’sambungnya. Aku mengangguk pelan, bayangan wajah umma masih terus terlukis dipandangan mataku.
*

            Kejadian seperti itu terjadi 10tahun yang lalu ketika aku berumur 7tahun. Umma ku pergi selamanya karena penyakit jantungnya yang tidak bisa disembuhkan lagi. Sudah 10tahun juga aku tinggal bersama eonni Tae dan Hyo, mereka merawatku dnegan kasih sayang mereka seperti umma. Eonni Taeng adalah Saengnya ummaku, sedangkan eonni Hyo adalah Saeng dari appa. Seung Ho adalah anak dari paman Leeteuk, yang kini sedang pergi keluar negeri jadi Seung Ho tinggal bersama kami.
‘’annyeong, ini sarapannya hari ini untuk sarapan pagi kita makan roti selai coklat tiramisu ne?’’ucap eonni Taeng sambil berjalan keruang makan dengan membawa roti2 yang terlihat empuk dan lezatnya coklat selai yang ia genggam ditangan kirinya.
            ‘’eonni aku bantu’’ucapku riang begitu melihat sarapan kami sudah siap sambil membawakan roti yang ia bawa ditangan kanannya. ‘’kamshahamnida eonni’’ucapku, sambil mengatur roti2 itu untuk dibagikan ke piring eonni Hyo, eonni Taeng Oppa Seung Ho dan aku sendiri, kemudian aku duduk dikursi sebelah eonni Hyo. Satu gigitan roti dilapisi selai coklat tiramisu membuatku langusng membuka mulutku dan langsung berbicara ‘’a mashita!’’ucapku sambil mengunyah, ‘’hei, kalau sedang makan jangan bicara dulu’’ucap eonni Hyo sambil memberikanku secangkir the panas ‘’minum dulu nanti tersedak’’sambungnya, aku mengangguk ‘’mianhaeyo’’jawabku.
‘’ah iya. Bagaimana dengan kegiatan music minggu depan chingu?’’tanya eonni Tae sambil membuka Koran yang tergeletak disampingnya
‘’ummm,, sepertinya minggu depan eon’’jawabku, ‘’eonni Hyo juga harus datang’’sambungku sambil menyenggol lengan eonni Hyo
‘’eh? Huwe? Ani sepertinya aku ada kompetensi dance minggu depan’’jawab eonni Hyo, hmmpphh bukan ini jawaban yang aku harapkan
‘’eon tenang aja, ada oppa kok disana’’ucapku meledeknya
‘’mwo? Oppa siapa?!’’tanyanya cepat
‘’oppa Eunhyuk‘’jawabku meledeknya lagi, aku tau eonni Hyo dan oppa Hyuk sedang didalam acara percintaan hehehe
‘’ya!! Habiskan makanan kalian!’’ucap eonni Taeng membuatku dan eonni Hyo cepat2 mengunyah roti dimulut kami yang sedari tadi terus mondar-mandir dimulut kami karena perbincangan kami.
‘’eh? Oppa Seung Ho mana? Dia tak ada?’’tanyaku menyadari kursi kosong disamping eon Taeng
‘’Seung Ho?!!!!!!’’panggil eonni Tae berteriak memanggilnya membuatku spontan menutup telingaku,
‘’ah pasti kesiangan lagi’’ucap eonni Tae kesal kemudian beranjak pergi dari kursinya
‘’mwo?’’tanyaku
            Kulanjutkan untuk mengunyah rotiku lagi, tiba-tiba tangan eonni Hyo menyenggol lengan kiriku. Aku menoleh kearahnya, ‘’mwo?’’tanyaku penasaran, terlihat senyum evil di wajahnya. ‘’mwo eon?’’tanyaku lagi. ‘’kau semakin menyukainya?’’tanyanya membuatku terkejut ‘’mwo???’’tanyaku dnegan nada lebih tinggi ‘’ah, santai saja lah aku tahu kau menyukainya kan?’’tanyanya lagi kini semakin mendekat denganku dan menatap mataku dalam2, ‘’aishh eonni ini’’jawabku lalu aku meninggalkan kursiku dan membawa satu roti ditangan kananku sedangkan tangan kiriku merapikan ransel.
            ‘’aku berangkat’’ucapku sambil melahap roti ditangan kananku. Tiba-tiba saja langkahku terhenti begitu eonni Taeng dan oppa Seung Ho turun dari tangga dan berada disampingku, ‘’ah, annyeong’’sapaku gugup. Tangan eonni Taeng menggenggam kerah kemeja oppa Seung Ho yang masih tampak mengantuk. ‘’mwo? Kau mau berangkat sekarang?’’tanya eonni Taeng. Aku mengangguk, sambil cepat2 menelan roti yang berada didalam mulutku. ‘’yasudah, hati-hati ya?’’ucap eonni taeng lagi, aku mengangguk dan bergegas berlari keluar rumah.
            Tanganku mencengkeram pelan pegangan sepeda merahku sambil mulai bersiap-siap berangkat dengan kaki kiriku yang sudah siap di pedal kiri sepedaku. Sepeda ini mengingatkanku akan umma, umma memberikanku ketika aku berumur 6tahun.
Sooyoung flash-
‘’umma sepeda ini terlalu besar ne?’’
‘’ne, tapi kau tak perlu khawatir. Umma memang sengaja membelikan sepeda gunung besar ini untuk kau pakai jika usdah besar nanti’’
‘’kenapa tidak sekarang umma?’’
‘’kan baru saja dibelikan sepeda mini oleh appa kan?’’
‘’oh ne, rasanya aku ingin cepat besar umma agar umma melihatku memakai sepeda ini didepan umma’’
‘’ne, umma akan melihatmu nanti’’
‘’nanti sepulang sekolah aku langsung akan memakai sepeda ini didepan umma, oh iya umma kan suka coklat nanti aku bawain coklat juga’’
‘’ne, umma akan senang memakannya’’
Sooyoung Flash END-
            Air mataku terjatuh ketika mengingat masa2 itu. Sekarang umma tidak bisa melihatku memakai sepeda pemberiannya ini, umma apakah kau disana bahagia? Aku benar-benar berharap umma bisa melihatku menggunakan sepeda ini umma sekali saja.
*
            Kuketuk-ketukkan sepatu cats ku kerumput dibawah kursi putih panjang yang sedang kududuki. Tadi aku sudah melihat jadwal dan ternyata jadwal mata pelajaranku masih nanti pukul 8.am, sekarang baru 7.30a.m, lebih baik aku menunggu kedua sahabatku kesini, mereka adalah Sulli dan Jiyeon. Sulli satu kelas denganku kami sama-sama dikelas music, sedangkan Jiyeon dikelas memasak.
            Aku melirik kearah samping gerbang campus untuk melihat sepedaku yang terparkir disana. Suasana sekarang mendung untung saja ada atap ditempat parkiran itu jadi sepedaku tak akan kebasahan jika hujan tiba-tiba datang nanti.
           
‘’Annyeong!!’’sapa Jiyeon yang tiba-tiba sudah berdiri didepanku, ‘’mwo? Cepat sekali kau datang mengagetkanku saja’’jawabku, ia pun duduk disebelahku sambil mulai merapikan rambut coklat panjangnya yang berkiauan itu. ‘’sulli mana?’’tanyanya mengeluarkan handphone dari ransel coklat bergambar cookie cartoon yang lucu. ‘’gatau, makanya aku menunggu kalian disini seperti biasanya’’ucapku. ‘’oh ne! hari ini aku buat cooki hloh dirumahku, kau mau datang?’’tawarnya. ‘’jinja? Wah gomapta’’jawaku senang.
            ‘’ne, oh iya tadi aku melihat ke papan pengumuman di ruang tengah, katanya minggu depan ada pertunjukan musik kan?’’tanyanya, ‘’mwo?’’tanyaku balik, ‘’ne kalau tidak percaya lihat saja ke ruang tengah’’jawabnya santai. ‘’omo, notenya belum aku siapkan’’ucapku khawatir. ‘’mwo?? Tapi minggu depan hloh, kau yakin bisa menyelesaikannya?’’
‘’aku tak yakin, doakan aku saja ya?’’
‘’ne, pasti kok’’
            Sulli berlarian dari arah gerbang campus dan berlari menuju kearah kami. Nafasnya tampak tersengal-sengal. ‘’waeyo? Kau dikejar setan?’’tanyaku penasaran sambil membantunya menurunkan ransel pink berpitanya. ‘’ani kok! Gwenchana’’jawabnya sambil tertawa. ‘’aishh membuatku panic saja’’ucap Jiyeon mengambil kipasnya sambil mengibaskannya diwajahnya. ‘’kau sudah menyelesaikan notemu?’’tanyaku pada Sulli, ‘’eh? Untuk apa?’’tanyanya balik, ‘’pertunjukan music minggu depan’’jawabku heran. ‘’mwo?’’ucapnya khawatir tapi raut wajah khawatir itu tiba2 berubah menjadi senang, ‘’mwo?’’tanyaku heran ‘’ah sudahlah lagian kita kan punya pemain biola yang mahir ngapain khawatir’’ucapnya sambil mengeluarkan raut wajahnya yang evil yg ditujukan padaku. ‘’mwo? Ani! Kau buat sendiri notemu lagian kau kan memakai alat music Piano’’jawabku cepat, aku tahu ia akan menyuruhku membuatkannya note lagu pianonya lagi seperti beberapa minggu yang lalu.
            ‘’ahh ayolah? Chingu?’’pintanya memelas, ‘’undwee’’jawabku tegas. ‘’pukul 8a.m nih, kalian masuk kelas’’ucap Jiyeon melirik jam tangannya. ‘’eh? Mwo? Cepat sekali, ayo Sulli kita kekelas, oh ya Ji kau disini taka pa?’’tanyaku pada Jiyeon sambil membantu sulli membereskan ranslenya yg maish berantakan, ‘’ne, gwenchana’’jawabnya, kemudian aku dan Sulli pun bergegas lari menuju lantai atas.

Jiyeon POV.

            ‘’Ji kau disini taka pa?’’tanya Soo padaku, tangannya masih sibuk membantu sulli membenahi ranselnya yang begitu berantakan entah apa saja yang ia bawa didalam ranselnya itu. ‘’ne gwenchana’’jawabku, mereka berdua pun lalu pergi sambil berlari menuju lantai 2. Baiklah, sekarang apa sebaiknya yang harus aku lakukan, tadi pagi pukul 6a.m aku memang sudah berada disini untuk mengikuti kelas cepat, jadi tugasku nanti siang adalah membuat coklat tiramisu dirumah untuk dibawa besok pagi.
            Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kantin campus yang letaknya tak jauh dari kursi yang kududuki barusan. Udaranya masih terasa segar sekali, kebetulan juga cuaca sedang dingin, mendung sudah menutupi kecerahan langit sepertinya tak lama lagi akan hujan.
‘’duk, duk, duk’’suara ketukan kakiku terdengar di tangga kantin yang tidak begitu ramai pengunjung mungkin mereka sedang masuk kelas saat ini. aku memesan secangkir coklat panas lalu duduk di kursi dekat jendela, kuletakkan ransel kesayanganku di meja dan kurebahkan punggunggu didinding, rasanya nyaman sekali.
            ‘’Annyeong’’sapa seorang namja tiba-tiba duduk didepanku sambil membawa 2coklat panas dan meletakkan salah satunya didepanku, ‘’ah annyeong’’sapaku kembali. ‘’dingin sekali hari ini’’ucapnya lagi, dia dalah oppa Seung Ho satu-satunya Namja yang aku sukai saat ini. ‘’ne, untung saja aku membawa jacket’’jawabku sambil melukiskan senyumku yang sengaja kubuat manis didepannya,
‘’ah manis sekali’’ucap oppa Seung tiba-tiba dan membuat jantungku berdegub kencang, sekaligus membuatku malu
‘’eh? Oppa bisa saja’’jawabku sambil mengetukkan jari telunjukku ke pipi kananku
‘’memangnya punyamu tidak manis?’’tanyanya membuatku heran
‘’mwo? Apanya?’’tanyaku balik
‘’coklat panasnya’’jawabnya heran
‘’ooh ne, ne, manis sekali’’jawabku malu, ah aku kira tadi senyumku yang ia bilang manis ternyata coklat panas ini.
‘’ah ya, bagaimana kelasmu hari ini?’’
‘’kelasku? Umm biasa saja kok. Tadi pagi Cuma resep2 saja jadi nanti siang dibuat dirumah masing2’’
‘’wah pasti enak’’
‘’ah ya, oppa mau datang? Aku membuat cooki kemarin, Jiyeon juga datang’’
‘’jinja? Tapi sepertinya aku tak bisa ada pertandingan hari ini’’
            Kegembiraanku hilang tiba-tiba mendengar jawaban yang tak kuinginkan, terakhir kali oppa Seung kerumahku adalah saat aku merayakan ulang tahun yang ke-18 tahun kemarin.
‘’gwenchana?’’tanya oppa Seung sambil menatapku
‘’ne, gwenchana lain kali saja’’jawabku tersenyum
‘’hei, Jiyeon-ssi?’’
‘’ne?’’
‘’siapa Namjachingumu?’’
‘’mwo??’’tanyaku dengan jantung yang berdegub kencang
‘’
Naaam jaaa- chi nguuuuu’’jawab oppa Seung dengan lambat
aku terkekeh mendengarnya,
‘’untuk appa oppa Tanya itu?’’
‘’ani, hanya Tanya kok’’
‘’ummmm,, belum ada sih’’
‘’aku sudah ada hlo’’
‘’mwo? Oppa Homo?’’
            Kami pun tertawa berdua, saat-saat seperti ini yang selalu aku inginkan dalam hidupku. Rasanya nyaman sekali berada didekat oppa Seung. Pelan-pelan aku meniup coklat panas yang kini ditanganku lalu aku meminumnya sedikit. ‘’ah mashita’’ucapku seraya meminumnya lebih banyak lagi. ‘’oppa, Yeojachingu oppa sekarang siapa?’’tanyaku. oppa kelihatan terkejut sampai menaruh coklatnya dimeja dengan cepat, kubiarkan saja aku masih menunggu jawabannya. ‘’bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu?’’tanya oppa kembali, ‘’ya! Sebut saja namanya’’jawabku sedikit ketus. ‘’ummmmmm.’’ucapnya sambil berfikir ‘’sebenarnya aku sedang mendekatinya sih,aku tak tahu apa dia juga menyukaiku atau tidak’’ kata2 barusan yang diucapkan opaa Seung membuat jantungku berdegub kencang, apa itu aku? Apa oppa sedang mendekati aku? ‘’siapa oppa?’’tanyaku memberanikan diri aku sudah sangat penasaran dengannya. ‘’namanya Ji . . .’’dengan spontan aku melonjak dari tempat dudukku ketika mendengar jawaban oppa barusan, ‘’mianhae aku tadi terkejut sepertinya ada nyamuk menggigit kakiku’’ucapku berbohong.
            Oppa Seung hanya tersenyum melihatku, senyumannya sangat manis benar-benar semakin membuatku gila. ‘’Ji siapa oppa?’’tanyaku lagi aku ingin memastikan kalau itu aku. ‘’Jiyeon-ssi’’jawabnya, hatiku terasa begitu tenang setelah mendengar ucapan Namja yang selama ini aku tunggu-tunggu, ‘’aku oppa?’’tanyaku lagi. ‘’ne’’jawab oppa tersenyum dan duduk semakin mendekatiku, ‘’apa kau juga menyukaiku?’’tanya oppa Seung membuatku khawatir aku merasa sangat malu mengatakan perasaanku ini.
*
Sulli POV.
‘’do-re-mi, mi-fa-sol, mi-fa-sol-sol-la ……’’bimbing bu Victoria sambil melantunkan pianonya, soo tampak sibuk mengikuti nada yang diberikan bu Victoria dengan biolanya, sedangkan aku menulis kunci-kunci nada yang perlu dihafal,
‘’ok! Dari fa kalian langsung masuk nada La ya, kali ini kita memakai 2bagian’’
‘’neee’’jawab kami semua serempak
‘’sstttt stttt’’bisik seseorang yg dari suaranya itu kelihatannya seorang namja, aku menoleh kebelakang dan ternyata oppa Jonghyun yang sedari tadi menungguku untuk menoleh kebelakang
‘’waeyo?’’tanyaku ketus
ia tampak menulis disebuah kertas kecil dan langsung diberikan untukku
‘’ini’’ucapnya seraya memberikan kertas itu kepadaku
mwo? Apa ini isinya | Sulli ah, maukah kau pergi bersamaku malam ini? ada film bagus |
aku langsung berbalik badan dan meliriknya dan menggeleng
‘’undwe’’jawabku cepat,
            Aku kembali menulis kunci note note lagi dibukuku aku tak menghiraukan tangan oppa Jonghyun yang terus-terusan menggerak-gerakkan kursiku karena ia duduk tepat berada dibelakangku
‘’DO! RE! MI!!!!!!’’aku terkejut ketika seorang Yeoja berteriak keras seperti itu,
spontan kami semua melihta kearah suara itu, ternyata bu Victoria barusan yang berteriak di telinga oppa Jonghyun, aku tertawa kecil melihat raut wajah oppa Jonghyun yang begitu jelek selesai diteriaki
            Kami semua pun tertawa melihatnya, ‘’ia berulah lagi’’bisik Soo tiba-tiba ditelingaku, ‘’mwo? Kembalilah ketempatmu!’’ucapku sambil mendorongnya ke depan disamping tempat ajaran bu Victoria karena hari ini memang giliran Soo untuk memimpin nada bersama bu Victoria. Kulambaikan tanganku padanya ketika ia mulai measang biolanya dipundak kirinya, ia tersenyum padaku.
            Aku dan Soo sudah saling mengenal sejak kami di Juniro High School. Sewaktu grade 2 aku adalah pemain inti didalam olahraga basket, bersama Minho juga. Dulu, awal kami bertemu adalah ketika aku menolongnya saat ia jatuh ketika hampir memasukkan bola basket ke ring, namun sayang sekali, tali sepatunya lepas membuatnya tersungkursampai membuat hidungnya berdarah, jika aku mengingat hal itu pasti aku akan mengeluarkan air mataku. Suara alunan biolanya juga mengingatkanku pada sahabat sejak kecilku, Minho. Dia sudah terkenal sekarang, ia menjadi penyanyi sekaligus actor, aku masih punya kalung pemberiannya ketika aku berulang tahun diumur 6tahun.
            Aku sangat merindukan Minho yang dulu, sangat perhatian. Entah hawa jahat apa yang memasuki tubuhnya membuatnya berubah. Terakhir kami bertemu di grade 2 High school, ia musuhku dalam bermain basket, walaupun aku seorang Yeoja, tapi aku adalah Yeoja pertama kali yang mengalahkannya dalam pertandingan basket satu lawan satu. Di Grade 2 itu Minho sudah berubah sih sebenarnya ia juga sudah memulai karirnya sebagai seorang penyanyi, tapi masih tetap melanjutkan sekolahnya, sampai naik ke Grade 3 tiba-tiba saja ia mengirim surat padaku bahwa ia harus berhenti sekolah dan memulai HomeSchooling nya di tempat dimana ia berada sekarang.
            Pasti ia sangat bahagia, banyak sekali Yeoja yang mengaguminya aku tidak terlalu mengaguminya sih hanya suka tertawa saja jika ia tampil di acara televisiku dirumah untuk pertunjukan secara live. ‘’Sulli ah’’panggil seorang Namja tiba-tiba. ‘’mwo?’’aku baru tersadar ternyata aku tadi melamun cukup lama. ‘’kau sudah mencatat kunci bagian 2 nya kan?’’tanya oppa Jonghyun padaku sambil berbisik. Omo aku keasyikan melamun sampai melupakan tugasku. Aku cepat-cepat mengecek catatanku ah baru bagian tengah dibagian pertama ‘’omo bagaimana ini oppa aku kelupaan’’ucapku khawatir, oppa Jonghyun mengeluarkan senyum evilnya membuatku curiga pasti ada sesuatu. ‘’mwo? Apa rencanamu kali ini?’’tanyaku blak-blakan.
Dikeluarkannya catatannya dar laci dibawah mejanya kemudian diberikan padaku, ‘’mwo? Apa ini?’’tanyaku penasaran. ‘’catatan kunci note semanya sudah selesai’’ucapnya sambil tersenyum, begitu aku akan mengambil buku itu dari tangannya ia cepat2 menyambarnya dan ‘’eits tunggu dulu’’ucapnya buru2, ‘’waeyo? Itu kan note buat kita semua’’
‘’ne, tapi bukankah kau yg bertugas mencatatnya?’’
‘’aku kelupaan, mianhae’’
‘’aaannniii’’
aku mengerucutkan bibirku sambil mendengus kesal
‘’jebal’’ucapku akhirnya setelah menahan emosiku
‘’aku akan memberikannya jika nanti malam kau pergi bersamaku’’
‘’mwo? Ani aku ada acra bersama Ji dan Soo’’
‘’ooh, baiklah kalau begitu tunggulah sampai bu Victoria memarahimu’’jawabnya santai sambil duduk dan membuka-buka bukunya tadi, sial tak ada pilihan lain aku harus menerima tawarannya jika hari in aku harus mendnegarkan ocehan bu Victoria lagi rasanya benar2 tak enak seperti ditaburi merica dimataku.
‘’argghhhh baiklah mana note nya!’’ujarku cepat sambil menyulurkan tanganku kebelakang. ‘’hehe akhirnya, nih! Berterimakasihlah padaku Karena aku telah menyelamatkanmu dari serangan buaya itu’’jawabnya sambil tertawa.

~To Be Continued~