Title :
Wind and Leaves
Author : Vadeliya S. Saputri ^^
Cast : Choi Minho,Sooyoung,Sulli,Jiyeon,Seung Ho,Kwon Yuri
Another Cast : Member SNSD, Shinee, F(x), Exo, T-ara, Super Junior
Genre : Sad, Romance
Length : Chaptered
Author : Vadeliya S. Saputri ^^
Cast : Choi Minho,Sooyoung,Sulli,Jiyeon,Seung Ho,Kwon Yuri
Another Cast : Member SNSD, Shinee, F(x), Exo, T-ara, Super Junior
Genre : Sad, Romance
Length : Chaptered
Dont Be Silent Readers please^^
Do Leave A Comment
CHAPTER 1.
Sooyoung POV.
‘’umma??!!!!!’’teriakku diikuti
dengan air mataku yang perlahan-lahan berjatuhan membasahi selimut yang
dikenakan ummaku dirumah sakit. Alat-alat bantu pernafasannya mulai dilepas
membuatku semakin terisak. Tanganku masih menggenggam tangan ummaku dengan
erat, sambil terus menangis. Pundakku mulai terasa dielus-elus dengan lembutnya
dari belakang sementara aku masih menatap kepergian umma. ‘’sabarlah soo,
umma mu akan bahagia disana’’ucap seorang Yeoja dari
belakangku, aku langusng berbalik badan melepas genggaman tangan umma dan
memeluk eonni Taeng yg sedari tadi memang sudah berada dibelakangku sambil
mengeluk-elus pundakku.
‘’umma’’ucapku lagi tapi
kali suaraku lebih rendah karena aku semakin tak sanggup mengucapkan kata itu. ‘’sudahlah’’jawab eonni Taeng
menenangkanku sambil mengusap kepalaku dengan lembutnya, ari mataku semakin
deras. Bagaimana aku bisa menerima kenyataan yang begitu pahit seperti ini? aku
takkan bisa seperti ini terus. ‘’kau akan tinggal bersamaku tenang
sajalah, kau masih punya aku, Eonni Hyo, juga ada Seung Ho dan appamu juga akan
segera datang tidak lama lagi’’sambungnya. Aku mengangguk pelan,
bayangan wajah umma masih terus terlukis dipandangan mataku.
*
Kejadian seperti itu
terjadi 10tahun yang lalu ketika aku berumur 7tahun. Umma ku pergi selamanya
karena penyakit jantungnya yang tidak bisa disembuhkan lagi. Sudah 10tahun juga
aku tinggal bersama eonni Tae dan Hyo, mereka merawatku dnegan kasih sayang mereka
seperti umma. Eonni Taeng adalah Saengnya ummaku, sedangkan eonni Hyo adalah
Saeng dari appa. Seung Ho adalah anak dari paman Leeteuk, yang kini sedang
pergi keluar negeri jadi Seung Ho tinggal bersama kami.
‘’annyeong, ini sarapannya hari ini untuk sarapan pagi
kita makan roti selai coklat tiramisu ne?’’ucap eonni Taeng
sambil berjalan keruang makan dengan membawa roti2 yang terlihat empuk dan
lezatnya coklat selai yang ia genggam ditangan kirinya.
‘’eonni aku bantu’’ucapku riang
begitu melihat sarapan kami sudah siap sambil membawakan roti yang ia bawa
ditangan kanannya. ‘’kamshahamnida eonni’’ucapku, sambil
mengatur roti2 itu untuk dibagikan ke piring eonni Hyo, eonni Taeng Oppa Seung
Ho dan aku sendiri, kemudian aku duduk dikursi sebelah eonni Hyo. Satu gigitan
roti dilapisi selai coklat tiramisu membuatku langusng membuka mulutku dan
langsung berbicara ‘’a mashita!’’ucapku sambil
mengunyah, ‘’hei, kalau sedang makan jangan bicara dulu’’ucap eonni Hyo
sambil memberikanku secangkir the panas ‘’minum dulu nanti
tersedak’’sambungnya, aku
mengangguk ‘’mianhaeyo’’jawabku.
‘’ah iya. Bagaimana dengan kegiatan music minggu depan chingu?’’tanya eonni Tae sambil membuka Koran yang tergeletak disampingnya
‘’ummm,, sepertinya minggu depan eon’’jawabku, ‘’eonni Hyo juga harus datang’’sambungku sambil menyenggol lengan eonni Hyo
‘’eh? Huwe? Ani sepertinya aku ada kompetensi dance minggu depan’’jawab eonni Hyo, hmmpphh bukan ini jawaban yang aku harapkan
‘’eon tenang aja, ada oppa kok disana’’ucapku meledeknya
‘’mwo? Oppa siapa?!’’tanyanya cepat
‘’oppa Eunhyuk‘’jawabku meledeknya lagi, aku tau eonni Hyo dan oppa Hyuk sedang didalam acara percintaan hehehe
‘’ya!! Habiskan makanan kalian!’’ucap eonni Taeng membuatku dan eonni Hyo cepat2 mengunyah roti dimulut kami yang sedari tadi terus mondar-mandir dimulut kami karena perbincangan kami.
‘’eh? Oppa Seung Ho mana? Dia tak ada?’’tanyaku menyadari kursi kosong disamping eon Taeng
‘’Seung Ho?!!!!!!’’panggil eonni Tae berteriak memanggilnya membuatku spontan menutup telingaku,
‘’ah pasti kesiangan lagi’’ucap eonni Tae kesal kemudian beranjak pergi dari kursinya
‘’mwo?’’tanyaku
‘’ah iya. Bagaimana dengan kegiatan music minggu depan chingu?’’tanya eonni Tae sambil membuka Koran yang tergeletak disampingnya
‘’ummm,, sepertinya minggu depan eon’’jawabku, ‘’eonni Hyo juga harus datang’’sambungku sambil menyenggol lengan eonni Hyo
‘’eh? Huwe? Ani sepertinya aku ada kompetensi dance minggu depan’’jawab eonni Hyo, hmmpphh bukan ini jawaban yang aku harapkan
‘’eon tenang aja, ada oppa kok disana’’ucapku meledeknya
‘’mwo? Oppa siapa?!’’tanyanya cepat
‘’oppa Eunhyuk‘’jawabku meledeknya lagi, aku tau eonni Hyo dan oppa Hyuk sedang didalam acara percintaan hehehe
‘’ya!! Habiskan makanan kalian!’’ucap eonni Taeng membuatku dan eonni Hyo cepat2 mengunyah roti dimulut kami yang sedari tadi terus mondar-mandir dimulut kami karena perbincangan kami.
‘’eh? Oppa Seung Ho mana? Dia tak ada?’’tanyaku menyadari kursi kosong disamping eon Taeng
‘’Seung Ho?!!!!!!’’panggil eonni Tae berteriak memanggilnya membuatku spontan menutup telingaku,
‘’ah pasti kesiangan lagi’’ucap eonni Tae kesal kemudian beranjak pergi dari kursinya
‘’mwo?’’tanyaku
Kulanjutkan untuk
mengunyah rotiku lagi, tiba-tiba tangan eonni Hyo menyenggol lengan kiriku. Aku
menoleh kearahnya, ‘’mwo?’’tanyaku penasaran,
terlihat senyum evil di wajahnya. ‘’mwo eon?’’tanyaku
lagi. ‘’kau semakin menyukainya?’’tanyanya membuatku terkejut ‘’mwo???’’tanyaku
dnegan nada lebih tinggi ‘’ah,
santai saja lah aku tahu kau menyukainya kan?’’tanyanya lagi kini semakin mendekat denganku dan menatap
mataku dalam2, ‘’aishh
eonni ini’’jawabku lalu
aku meninggalkan kursiku dan membawa satu roti ditangan kananku sedangkan
tangan kiriku merapikan ransel.
‘’aku
berangkat’’ucapku sambil
melahap roti ditangan kananku. Tiba-tiba saja langkahku terhenti begitu eonni
Taeng dan oppa Seung Ho turun dari tangga dan berada disampingku, ‘’ah, annyeong’’sapaku
gugup. Tangan eonni Taeng menggenggam kerah kemeja oppa Seung Ho yang masih
tampak mengantuk. ‘’mwo?
Kau mau berangkat sekarang?’’tanya
eonni Taeng. Aku mengangguk, sambil cepat2 menelan roti yang berada didalam
mulutku. ‘’yasudah,
hati-hati ya?’’ucap eonni
taeng lagi, aku mengangguk dan bergegas berlari keluar rumah.
Tanganku mencengkeram pelan pegangan sepeda merahku
sambil mulai bersiap-siap berangkat dengan kaki kiriku yang sudah siap di pedal
kiri sepedaku. Sepeda ini mengingatkanku akan umma, umma memberikanku ketika
aku berumur 6tahun.
Sooyoung flash-
‘’umma sepeda ini terlalu besar ne?’’
‘’ne, tapi kau tak perlu khawatir. Umma memang sengaja membelikan sepeda gunung besar ini untuk kau pakai jika usdah besar nanti’’
‘’kenapa tidak sekarang umma?’’
‘’kan baru saja dibelikan sepeda mini oleh appa kan?’’
‘’oh ne, rasanya aku ingin cepat besar umma agar umma melihatku memakai sepeda ini didepan umma’’
‘’ne, umma akan melihatmu nanti’’
‘’nanti sepulang sekolah aku langsung akan memakai sepeda ini didepan umma, oh iya umma kan suka coklat nanti aku bawain coklat juga’’
‘’ne, umma akan senang memakannya’’
Sooyoung Flash END-
Sooyoung flash-
‘’umma sepeda ini terlalu besar ne?’’
‘’ne, tapi kau tak perlu khawatir. Umma memang sengaja membelikan sepeda gunung besar ini untuk kau pakai jika usdah besar nanti’’
‘’kenapa tidak sekarang umma?’’
‘’kan baru saja dibelikan sepeda mini oleh appa kan?’’
‘’oh ne, rasanya aku ingin cepat besar umma agar umma melihatku memakai sepeda ini didepan umma’’
‘’ne, umma akan melihatmu nanti’’
‘’nanti sepulang sekolah aku langsung akan memakai sepeda ini didepan umma, oh iya umma kan suka coklat nanti aku bawain coklat juga’’
‘’ne, umma akan senang memakannya’’
Sooyoung Flash END-
Air mataku terjatuh ketika mengingat masa2 itu. Sekarang
umma tidak bisa melihatku memakai sepeda pemberiannya ini, umma apakah kau
disana bahagia? Aku benar-benar berharap umma bisa melihatku menggunakan sepeda
ini umma sekali saja.
*
Kuketuk-ketukkan sepatu cats ku kerumput dibawah kursi
putih panjang yang sedang kududuki. Tadi aku sudah melihat jadwal dan ternyata
jadwal mata pelajaranku masih nanti pukul 8.am, sekarang baru 7.30a.m, lebih
baik aku menunggu kedua sahabatku kesini, mereka adalah Sulli dan Jiyeon. Sulli
satu kelas denganku kami sama-sama dikelas music, sedangkan Jiyeon dikelas
memasak.
Aku melirik kearah samping gerbang campus untuk melihat
sepedaku yang terparkir disana. Suasana sekarang mendung untung saja ada atap
ditempat parkiran itu jadi sepedaku tak akan kebasahan jika hujan tiba-tiba
datang nanti.
‘’Annyeong!!’’sapa Jiyeon yang tiba-tiba sudah berdiri didepanku, ‘’mwo? Cepat sekali kau datang mengagetkanku saja’’jawabku, ia pun duduk disebelahku sambil mulai merapikan rambut coklat panjangnya yang berkiauan itu. ‘’sulli mana?’’tanyanya mengeluarkan handphone dari ransel coklat bergambar cookie cartoon yang lucu. ‘’gatau, makanya aku menunggu kalian disini seperti biasanya’’ucapku. ‘’oh ne! hari ini aku buat cooki hloh dirumahku, kau mau datang?’’tawarnya. ‘’jinja? Wah gomapta’’jawaku senang.
‘’Annyeong!!’’sapa Jiyeon yang tiba-tiba sudah berdiri didepanku, ‘’mwo? Cepat sekali kau datang mengagetkanku saja’’jawabku, ia pun duduk disebelahku sambil mulai merapikan rambut coklat panjangnya yang berkiauan itu. ‘’sulli mana?’’tanyanya mengeluarkan handphone dari ransel coklat bergambar cookie cartoon yang lucu. ‘’gatau, makanya aku menunggu kalian disini seperti biasanya’’ucapku. ‘’oh ne! hari ini aku buat cooki hloh dirumahku, kau mau datang?’’tawarnya. ‘’jinja? Wah gomapta’’jawaku senang.
‘’ne,
oh iya tadi aku melihat ke papan pengumuman di ruang tengah, katanya minggu
depan ada pertunjukan musik kan?’’tanyanya, ‘’mwo?’’tanyaku balik, ‘’ne kalau tidak percaya lihat saja ke ruang tengah’’jawabnya santai. ‘’omo, notenya belum aku siapkan’’ucapku khawatir. ‘’mwo?? Tapi minggu depan hloh, kau yakin bisa
menyelesaikannya?’’
‘’aku tak yakin, doakan aku saja ya?’’
‘’ne, pasti kok’’
‘’aku tak yakin, doakan aku saja ya?’’
‘’ne, pasti kok’’
Sulli berlarian dari arah gerbang campus dan berlari
menuju kearah kami. Nafasnya tampak tersengal-sengal. ‘’waeyo? Kau dikejar setan?’’tanyaku penasaran sambil membantunya menurunkan ransel pink
berpitanya. ‘’ani kok!
Gwenchana’’jawabnya
sambil tertawa. ‘’aishh
membuatku panic saja’’ucap
Jiyeon mengambil kipasnya sambil mengibaskannya diwajahnya. ‘’kau sudah menyelesaikan notemu?’’tanyaku pada Sulli, ‘’eh? Untuk apa?’’tanyanya balik, ‘’pertunjukan music minggu depan’’jawabku heran. ‘’mwo?’’ucapnya
khawatir tapi raut wajah khawatir itu tiba2 berubah menjadi senang, ‘’mwo?’’tanyaku
heran ‘’ah sudahlah lagian kita kan punya pemain biola yang mahir
ngapain khawatir’’ucapnya
sambil mengeluarkan raut wajahnya yang evil yg ditujukan padaku. ‘’mwo? Ani! Kau buat sendiri notemu lagian kau kan memakai
alat music Piano’’jawabku
cepat, aku tahu ia akan menyuruhku membuatkannya note lagu pianonya lagi
seperti beberapa minggu yang lalu.
‘’ahh
ayolah? Chingu?’’pintanya
memelas, ‘’undwee’’jawabku tegas. ‘’pukul 8a.m nih, kalian masuk kelas’’ucap Jiyeon melirik jam tangannya. ‘’eh? Mwo? Cepat sekali, ayo Sulli kita kekelas, oh ya Ji kau
disini taka pa?’’tanyaku
pada Jiyeon sambil membantu sulli membereskan ranslenya yg maish berantakan, ‘’ne, gwenchana’’jawabnya, kemudian aku dan Sulli pun bergegas lari menuju
lantai atas.
Jiyeon POV.
‘’Ji
kau disini taka pa?’’tanya
Soo padaku, tangannya masih sibuk membantu sulli membenahi ranselnya yang
begitu berantakan entah apa saja yang ia bawa didalam ranselnya itu. ‘’ne gwenchana’’jawabku,
mereka berdua pun lalu pergi sambil berlari menuju lantai 2. Baiklah, sekarang
apa sebaiknya yang harus aku lakukan, tadi pagi pukul 6a.m aku memang sudah
berada disini untuk mengikuti kelas cepat, jadi tugasku nanti siang adalah
membuat coklat tiramisu dirumah untuk dibawa besok pagi.
Aku bangkit dari dudukku dan berjalan menuju kantin
campus yang letaknya tak jauh dari kursi yang kududuki barusan. Udaranya masih
terasa segar sekali, kebetulan juga cuaca sedang dingin, mendung sudah menutupi
kecerahan langit sepertinya tak lama lagi akan hujan.
‘’duk, duk, duk’’suara ketukan kakiku terdengar di tangga kantin yang tidak begitu ramai pengunjung mungkin mereka sedang masuk kelas saat ini. aku memesan secangkir coklat panas lalu duduk di kursi dekat jendela, kuletakkan ransel kesayanganku di meja dan kurebahkan punggunggu didinding, rasanya nyaman sekali.
‘’duk, duk, duk’’suara ketukan kakiku terdengar di tangga kantin yang tidak begitu ramai pengunjung mungkin mereka sedang masuk kelas saat ini. aku memesan secangkir coklat panas lalu duduk di kursi dekat jendela, kuletakkan ransel kesayanganku di meja dan kurebahkan punggunggu didinding, rasanya nyaman sekali.
‘’Annyeong’’sapa seorang namja tiba-tiba duduk didepanku sambil membawa
2coklat panas dan meletakkan salah satunya didepanku, ‘’ah annyeong’’sapaku
kembali. ‘’dingin sekali
hari ini’’ucapnya lagi, dia dalah oppa Seung Ho satu-satunya Namja
yang aku sukai saat ini. ‘’ne,
untung saja aku membawa jacket’’jawabku
sambil melukiskan senyumku yang sengaja kubuat manis didepannya,
‘’ah manis sekali’’ucap oppa Seung tiba-tiba dan membuat jantungku berdegub kencang, sekaligus membuatku malu
‘’eh? Oppa bisa saja’’jawabku sambil mengetukkan jari telunjukku ke pipi kananku
‘’memangnya punyamu tidak manis?’’tanyanya membuatku heran
‘’mwo? Apanya?’’tanyaku balik
‘’coklat panasnya’’jawabnya heran
‘’ah manis sekali’’ucap oppa Seung tiba-tiba dan membuat jantungku berdegub kencang, sekaligus membuatku malu
‘’eh? Oppa bisa saja’’jawabku sambil mengetukkan jari telunjukku ke pipi kananku
‘’memangnya punyamu tidak manis?’’tanyanya membuatku heran
‘’mwo? Apanya?’’tanyaku balik
‘’coklat panasnya’’jawabnya heran
‘’ooh ne, ne,
manis sekali’’jawabku malu,
ah aku kira tadi senyumku yang ia bilang manis ternyata coklat panas ini.
‘’ah ya,
bagaimana kelasmu hari ini?’’
‘’kelasku? Umm biasa saja kok. Tadi pagi Cuma resep2 saja jadi nanti siang dibuat dirumah masing2’’
‘’wah pasti enak’’
‘’kelasku? Umm biasa saja kok. Tadi pagi Cuma resep2 saja jadi nanti siang dibuat dirumah masing2’’
‘’wah pasti enak’’
‘’ah ya, oppa
mau datang? Aku membuat cooki kemarin, Jiyeon juga datang’’
‘’jinja? Tapi
sepertinya aku tak bisa ada pertandingan hari ini’’
Kegembiraanku hilang tiba-tiba mendengar jawaban yang tak
kuinginkan, terakhir kali oppa Seung kerumahku adalah saat aku merayakan ulang
tahun yang ke-18 tahun kemarin.
‘’gwenchana?’’tanya oppa Seung sambil menatapku
‘’gwenchana?’’tanya oppa Seung sambil menatapku
‘’ne, gwenchana
lain kali saja’’jawabku
tersenyum
‘’hei,
Jiyeon-ssi?’’
‘’ne?’’
‘’siapa Namjachingumu?’’
‘’mwo??’’tanyaku dengan jantung yang berdegub kencang
‘’Naaam – jaaa- chi – nguuuuu’’jawab oppa Seung dengan lambat
aku terkekeh mendengarnya, ‘’untuk appa oppa Tanya itu?’’
‘’ani, hanya Tanya kok’’
‘’ummmm,, belum ada sih’’
‘’aku sudah ada hlo’’
‘’mwo? Oppa Homo?’’
‘’ne?’’
‘’siapa Namjachingumu?’’
‘’mwo??’’tanyaku dengan jantung yang berdegub kencang
‘’Naaam – jaaa- chi – nguuuuu’’jawab oppa Seung dengan lambat
aku terkekeh mendengarnya, ‘’untuk appa oppa Tanya itu?’’
‘’ani, hanya Tanya kok’’
‘’ummmm,, belum ada sih’’
‘’aku sudah ada hlo’’
‘’mwo? Oppa Homo?’’
Kami pun tertawa berdua, saat-saat seperti ini yang
selalu aku inginkan dalam hidupku. Rasanya nyaman sekali berada didekat oppa
Seung. Pelan-pelan aku meniup coklat panas yang kini ditanganku lalu aku
meminumnya sedikit. ‘’ah
mashita’’ucapku seraya meminumnya lebih banyak lagi. ‘’oppa, Yeojachingu oppa sekarang siapa?’’tanyaku. oppa kelihatan terkejut sampai menaruh coklatnya
dimeja dengan cepat, kubiarkan saja aku masih menunggu jawabannya. ‘’bagaimana aku bisa menjelaskannya padamu?’’tanya oppa kembali, ‘’ya! Sebut saja namanya’’jawabku sedikit ketus. ‘’ummmmmm….’’ucapnya sambil berfikir ‘’sebenarnya aku sedang mendekatinya sih,aku tak tahu apa dia
juga menyukaiku atau tidak’’
kata2 barusan yang diucapkan opaa Seung membuat jantungku berdegub kencang, apa
itu aku? Apa oppa sedang mendekati aku? ‘’siapa oppa?’’tanyaku
memberanikan diri aku sudah sangat penasaran dengannya. ‘’namanya Ji . . .’’dengan spontan aku melonjak dari tempat dudukku ketika
mendengar jawaban oppa barusan, ‘’mianhae aku tadi terkejut sepertinya ada nyamuk menggigit
kakiku’’ucapku berbohong.
Oppa Seung hanya tersenyum melihatku, senyumannya sangat
manis benar-benar semakin membuatku gila. ‘’Ji siapa oppa?’’tanyaku lagi aku ingin memastikan kalau itu aku. ‘’Jiyeon-ssi’’jawabnya,
hatiku terasa begitu tenang setelah mendengar ucapan Namja yang selama ini aku
tunggu-tunggu, ‘’aku
oppa?’’tanyaku lagi. ‘’ne’’jawab
oppa tersenyum dan duduk semakin mendekatiku, ‘’apa kau juga menyukaiku?’’tanya oppa Seung membuatku khawatir aku merasa sangat malu
mengatakan perasaanku ini.
*
Sulli POV.
‘’do-re-mi,
mi-fa-sol, mi-fa-sol-sol-la ……’’bimbing
bu Victoria sambil melantunkan pianonya, soo tampak sibuk mengikuti nada yang
diberikan bu Victoria dengan biolanya, sedangkan aku menulis kunci-kunci nada
yang perlu dihafal,
‘’ok! Dari fa
kalian langsung masuk nada La ya, kali ini kita memakai 2bagian’’
‘’neee’’jawab kami semua serempak
‘’sstttt stttt’’bisik seseorang yg dari suaranya itu kelihatannya seorang namja, aku menoleh kebelakang dan ternyata oppa Jonghyun yang sedari tadi menungguku untuk menoleh kebelakang
‘’waeyo?’’tanyaku ketus
ia tampak menulis disebuah kertas kecil dan langsung diberikan untukku ‘’ini’’ucapnya seraya memberikan kertas itu kepadaku
mwo? Apa ini isinya | Sulli ah, maukah kau pergi bersamaku malam ini? ada film bagus |
aku langsung berbalik badan dan meliriknya dan menggeleng ‘’undwe’’jawabku cepat,
‘’neee’’jawab kami semua serempak
‘’sstttt stttt’’bisik seseorang yg dari suaranya itu kelihatannya seorang namja, aku menoleh kebelakang dan ternyata oppa Jonghyun yang sedari tadi menungguku untuk menoleh kebelakang
‘’waeyo?’’tanyaku ketus
ia tampak menulis disebuah kertas kecil dan langsung diberikan untukku ‘’ini’’ucapnya seraya memberikan kertas itu kepadaku
mwo? Apa ini isinya | Sulli ah, maukah kau pergi bersamaku malam ini? ada film bagus |
aku langsung berbalik badan dan meliriknya dan menggeleng ‘’undwe’’jawabku cepat,
Aku kembali menulis kunci note note lagi dibukuku aku tak
menghiraukan tangan oppa Jonghyun yang terus-terusan menggerak-gerakkan kursiku
karena ia duduk tepat berada dibelakangku
‘’DO! RE! MI!!!!!!’’aku terkejut ketika seorang Yeoja berteriak keras seperti itu,
spontan kami semua melihta kearah suara itu, ternyata bu Victoria barusan yang berteriak di telinga oppa Jonghyun, aku tertawa kecil melihat raut wajah oppa Jonghyun yang begitu jelek selesai diteriaki
‘’DO! RE! MI!!!!!!’’aku terkejut ketika seorang Yeoja berteriak keras seperti itu,
spontan kami semua melihta kearah suara itu, ternyata bu Victoria barusan yang berteriak di telinga oppa Jonghyun, aku tertawa kecil melihat raut wajah oppa Jonghyun yang begitu jelek selesai diteriaki
Kami semua pun tertawa melihatnya, ‘’ia berulah lagi’’bisik Soo tiba-tiba ditelingaku, ‘’mwo? Kembalilah ketempatmu!’’ucapku sambil mendorongnya ke depan disamping tempat ajaran
bu Victoria karena hari ini memang giliran Soo untuk memimpin nada bersama bu
Victoria. Kulambaikan tanganku padanya ketika ia mulai measang biolanya
dipundak kirinya, ia tersenyum padaku.
Aku dan Soo sudah saling mengenal sejak kami di Juniro
High School. Sewaktu grade 2 aku adalah pemain inti didalam olahraga basket,
bersama Minho juga. Dulu, awal kami bertemu adalah ketika aku menolongnya saat
ia jatuh ketika hampir memasukkan bola basket ke ring, namun sayang sekali,
tali sepatunya lepas membuatnya tersungkursampai membuat hidungnya berdarah,
jika aku mengingat hal itu pasti aku akan mengeluarkan air mataku. Suara alunan
biolanya juga mengingatkanku pada sahabat sejak kecilku, Minho. Dia sudah
terkenal sekarang, ia menjadi penyanyi sekaligus actor, aku masih punya kalung
pemberiannya ketika aku berulang tahun diumur 6tahun.
Aku sangat merindukan Minho yang dulu, sangat perhatian.
Entah hawa jahat apa yang memasuki tubuhnya membuatnya berubah. Terakhir kami
bertemu di grade 2 High school, ia musuhku dalam bermain basket, walaupun aku
seorang Yeoja, tapi aku adalah Yeoja pertama kali yang mengalahkannya dalam
pertandingan basket satu lawan satu. Di Grade 2 itu Minho sudah berubah sih
sebenarnya ia juga sudah memulai karirnya sebagai seorang penyanyi, tapi masih
tetap melanjutkan sekolahnya, sampai naik ke Grade 3 tiba-tiba saja ia mengirim
surat padaku bahwa ia harus berhenti sekolah dan memulai HomeSchooling nya di
tempat dimana ia berada sekarang.
Pasti ia sangat bahagia, banyak sekali Yeoja yang
mengaguminya aku tidak terlalu mengaguminya sih hanya suka tertawa saja jika ia
tampil di acara televisiku dirumah untuk pertunjukan secara live. ‘’Sulli ah’’panggil
seorang Namja tiba-tiba. ‘’mwo?’’aku baru tersadar ternyata aku tadi melamun cukup lama. ‘’kau sudah mencatat kunci bagian 2 nya kan?’’tanya oppa Jonghyun padaku sambil berbisik. Omo aku
keasyikan melamun sampai melupakan tugasku. Aku cepat-cepat mengecek catatanku
ah baru bagian tengah dibagian pertama ‘’omo bagaimana ini oppa aku kelupaan’’ucapku khawatir, oppa Jonghyun mengeluarkan senyum evilnya
membuatku curiga pasti ada sesuatu. ‘’mwo? Apa rencanamu kali ini?’’tanyaku blak-blakan.
Dikeluarkannya catatannya dar
laci dibawah mejanya kemudian diberikan padaku, ‘’mwo? Apa ini?’’tanyaku penasaran. ‘’catatan kunci note semanya sudah selesai’’ucapnya sambil tersenyum, begitu aku akan mengambil buku itu
dari tangannya ia cepat2 menyambarnya dan ‘’eits tunggu dulu’’ucapnya buru2, ‘’waeyo? Itu kan note buat kita semua’’
‘’ne, tapi bukankah kau yg bertugas mencatatnya?’’
‘’aku kelupaan, mianhae’’
‘’aaa—nnn—iii’’
aku mengerucutkan bibirku sambil mendengus kesal ‘’jebal’’ucapku akhirnya setelah menahan emosiku
‘’aku akan memberikannya jika nanti malam kau pergi bersamaku’’
‘’mwo? Ani aku ada acra bersama Ji dan Soo’’
‘’ooh, baiklah kalau begitu tunggulah sampai bu Victoria memarahimu’’jawabnya santai sambil duduk dan membuka-buka bukunya tadi, sial tak ada pilihan lain aku harus menerima tawarannya jika hari in aku harus mendnegarkan ocehan bu Victoria lagi rasanya benar2 tak enak seperti ditaburi merica dimataku.
‘’argghhhh baiklah mana note nya!’’ujarku cepat sambil menyulurkan tanganku kebelakang. ‘’hehe akhirnya, nih! Berterimakasihlah padaku Karena aku telah menyelamatkanmu dari serangan buaya itu’’jawabnya sambil tertawa.
‘’ne, tapi bukankah kau yg bertugas mencatatnya?’’
‘’aku kelupaan, mianhae’’
‘’aaa—nnn—iii’’
aku mengerucutkan bibirku sambil mendengus kesal ‘’jebal’’ucapku akhirnya setelah menahan emosiku
‘’aku akan memberikannya jika nanti malam kau pergi bersamaku’’
‘’mwo? Ani aku ada acra bersama Ji dan Soo’’
‘’ooh, baiklah kalau begitu tunggulah sampai bu Victoria memarahimu’’jawabnya santai sambil duduk dan membuka-buka bukunya tadi, sial tak ada pilihan lain aku harus menerima tawarannya jika hari in aku harus mendnegarkan ocehan bu Victoria lagi rasanya benar2 tak enak seperti ditaburi merica dimataku.
‘’argghhhh baiklah mana note nya!’’ujarku cepat sambil menyulurkan tanganku kebelakang. ‘’hehe akhirnya, nih! Berterimakasihlah padaku Karena aku telah menyelamatkanmu dari serangan buaya itu’’jawabnya sambil tertawa.
~To Be Continued~



Tidak ada komentar:
Posting Komentar