Senin, 24 Desember 2012

Wind and Leaves |Chaper 2|


Chapter 2-

‘’jadi kau tadi menerimanya begitu?’’tanya Soo sambil menahan tawanya
aku mengangguk sambil merapikan rambutku, kami baru saja keluar dari jam pelajaran kami, kini sudah pukul 11a.m
‘’makanya lain kali jangan suka melamun lagi’’ujarnya sambil menarik tali tas biolanya yang sedikit longgar
‘’ne! kau dan yang lainnya juga, ‘’jawabku menggerutu
‘’wah sayang sekali jadi nanti malam kau tak ikut kerumah Ji?’’
‘’aku lihat dulu nanti jika aku sempat aku pasti mampir kok tenang saja’’
iapun tersenyum begitu manisnya, aku menjadi teringat dengan ucapan Minho dulu
Sulli Splash-
‘’aku menginginkan seorang Yeoja yang memiliki senyum manis sehingga membuat hidupku lebih terasa menyenangkan’’
‘’mwo? Senyumku tak manis?’’
‘’ani! Senyummu masam seperti jeruk yang belum matang’’
‘’YA!! Oppa Minho jahat!!!’’
Sulli Splash End-

           Soo menatapku dengan serius, kok tiba-tiba dia sudah berdiri didepanku, ‘’waeyo Sulli-ah?’’tanyanya heran ‘’mwo? Ani! Gwenchana’’jawabku yang baru tersadar dari lamunanku, akhir-akhir ini aku memang suka melamun sendiri dan aku selalu teringat dengan oppa Minho. ‘’Youngie?’’panggilku ketika Soo sedang berkaca didepan kaca besar didekat papan pengumuman sekolah ‘’ne? waeyo?’’tanyanya sambil masih merapikan rambutnya. ‘’kita temui Ji yuk?’’tawarku sambil mendekatinya juga ikut berkaca disampingnya, ‘’yuk!’’jawabnya sambil menggenggam tanganku, kemudian kami berjalan pergi keluar.
‘’drrrttt drrtttt’’
Handphone ku bergetar disaku celanaku, aku merogohnya kemudian membukanya untuk melihat pesan masuk
 @Hyuna  | kau kemana saja sih? Aku sudah menunggumu untuk pemotretan minggu kemarin |
aishh Yeoja yang satu ini terus saja menggangguku berharap aku datang ke apartmentnya untuk membicarakan pemotretan
 @Sulli  | Ya!! Sudah kubilang berapa kali kalau aku menolaknya! |   balasku kesal
           Hyuna adalah salah satu anggota paparazzi, dia biasanya suka menyamar dan mengunjungi campus-campus tertentu untuk mencari bakat yang ia cari. Sialnya ketika aku sedang mencoba bermain biola ditaman campus, dia memotretku dan sampai sekarangpun aku dituntut agar mengikuti pemotretan. Ia bilang sih pemotretan yang cukup terkenal aku juga punya kesempatan untuk ke SMTown, dia bilang aku bisa bertemu Minho tapi sayangnya aku tak tertarik.
 ‘’Drrrttt Drrrttt’’
 @Hyuna  | YAA!! Besok siang datanglah! Aku tunggu uangnya kami bayar dimuka |
aissshh benar-benar tidak mau menyerah, lebih baik aku tak membalasnya, langsung kututup handphone ku dan kumasukkan lagi kedalam saku
‘’Namjachingumu ne?’’tanya Soo meledekku
‘’mwo?’’tanyaku tak mengerti
‘’yang barusan mengirim pesan’’
‘’ani’’
‘’ahh Jonghyun oppa ne?’’
‘’ah ani Youngie!’’jawabku sambil mengacak-acak poninya
           ‘’Youngie!!! Ji!!’’panggil seseorang dari kejauhan seperti suara Yeoja. ‘’ne! Jii disini’’ujar Soo sambil melambaikan tangannya ke seorang Yeoja berbaju merah yang berlari menuju kearah kami, aku tak tahu itu siapa pandanganku kabur jika harus melihat kejauhan, ‘’Jiyeon?’’tanyaku sambil masih mengusap-usap kulit mataku dan mencoba melihat lagi

‘’omo! Akhirnya kalian keluar juga, ada yang mau bicarakan’’ucapnya, ah ternyata ia benar Jiyeon
‘’mwo? Mwo?’’tanya Soo tidak sabaran
‘’baru saja . .’’
‘’ne?’’
‘’aku . . .’’
‘’ne?’’
‘’bersama . . .’’
‘’aduh kelamaan!!’’ujarku
‘’aku menjadi Yeojachingunya oppa Seung’’
‘’mwo?’’tanyaku terkejut, Soo juga sama sepertiku tapi aku melihat raut wajahnya yang sedikit kecewa sepertinya sedih setelah mendnegar ucapan Jiyeon barusan
‘’mwo? Wah Chukkae!’’ucapku sambil memeluk Jiyeon, aku sengaja memeluknya duluan biasanya kami berpelukan selalu bertiga tapi pasti ada yang salah dengan Soo jadi aku membiarkannya saja dulu aku yakin ia butuh waktu.
‘’bagaimana itu bisa terjadi? Omo Jiyeon-ssi ku sudah punya Namjachingu sekarang’’ucapku lagi,
           Jiyeon tersenyum senang memandangku kemudian terheran ketika melihat Soo yang berdiam diri saja. ‘’Yoooouuuuuunnngggiiiiieeeeee’’ucap Ji dengan lambat, Soo seketika merubah raut wajahnya begitu bening dan mengeluarkan senyum manisnya kemudian ia juga memeluk Jiyeon seperti aku memeluk Jiyeon tadi ‘’Chukkae Chukkae’’ucap Soo begitu senangnya. Aku tak mengerti tapi pasti ada sesuatu yang ia sembunyikan aku akan bicara padanya nanti.
*
           Sebelum kami pulang keruma, kami mampir dulu di Coffe Café yang letaknya tak jauh dari campus untuk berbincang-bincang bersama sebentar. Pandanganku tak lepas dari raut wajah Soo yang selalu berubah-ubah daritadi. Suasana menjadi begitu dingin, gerimis mulai berdatangan dan entah mengapa kami bertiga hanya diam saja. Sepertinya Jiyeon juga menyadari sifat Soo yang sedikit aneh, jadi aku harus menghentikan kecurigaannya sebelum ia menyadarinya lebih lama ‘’ah! Mashita!! Enak sekali’’ucapku sambil meminum sedikit minuman kopi yang dicampur dengan susu yang tadi aku pesan, begitupun Soo dan Jiyeon masing2 tangan mereka memegang secangkir kopi yang berbeda rasa.
‘’hei Ji kau tau tidak, semalam aku baru saja baca resep kue yang baru dibeli umma’’ucapku lagi dengan semangat
‘’mwo? Aku pinjam aku pinjam jebaaall’’jawab Jiyeon menaruh cangkir kopinya dan mengulurkan tangannya kearahku
‘’ne, besok saja ne aku tak membawanya hari ini’’ucapku tersenyum dan menyempatkan mataku untuk melirik Soo yang terus-terusan diam
‘’Youngie, kau mau mencoba biola besar milik ayahku? Aku pernah sih mencoba memainkannya tapi belum sempat karena terasa berat haha’’ucapku bercanda mencoba mengeluarkan tawanya
‘’jinja? Nee lain kali aku mampir kerumahmu’’jawabnya singkat, aku masih melihat senyumnya sih tapi kali ini senyumnya lebih lemah
‘’kau ada masalah Soo?’’tanya Jiyeon blak-blakan membuatku terkejut mendengarnya
‘’ne! ne!’’jawabku menghentikan jawaban Soo, ‘’dia tadi tidak sengaja menjatuhkan tongkat biolanya ke mulut Jonghyun hahahaha’’sambungku berbohong sambil tertawa berhasil, aku membuat Jiyeon tertawa dengan jawabanku barusan
‘’haha, bisa saja kau mengarang Sull’’ucap Soo sambil buru-buru menghabiskan kopinya
‘’drtttt drrrttt’’
           ah Handphone ku bergetar lagi, dengan kesal aku merogohnya
 @Jonghyun  | jangan lupa ne?
‘’
aiisshh, Namja ini lagi! Lebih baik aku tak membalasnya, buang-buang waktu saja
‘’bagaimana nanti malam? Kalian berdua saja ne? aku janji akan datang kok tapi agak lama’’ujarku sambil sibuk menghapus pesan2 yang tidak perlu diHandphone ku
‘’ne bagaimana Yooungie? Kau datang duluan saja ne kerumahku?’’tanya Jiyeon
‘’ummm, sepertinya aku juga akan sedikit telat, gwenchana?’’jawab Soo
raut wajah Jiyeon tampak sedih,
‘’gwenchana, tapi datang ne?’’
‘’ne, tenang saja’’
*
                   ‘’ting tong, ting tong’’aku memencet bel rumah tapi tidak juga dibuka sedari tadi, kemana sih orang2 dirumah, kulirik jam tanganku yang baru menunjuk ke pukul 2p.m ternyata sudah sore tidak terasa sekali kami lama sekali tadi di Coffe Café. ‘’ckrekk ckrekkk’’suara pintu dibukakan, seorang namja tinggi berdiri tegak didepanku ‘’mwo! Siapa kau! Waeyo dirumahku?!’’ujarku memarahinya. ‘’omo, gwechana? Sepertinya kau habis mabuk?’’tanyanya pelan, argghhh aku menggeram cepat2 aku mendorongnya lalu masuk kedalam rumah, ‘’ummaaaaa……appa……’’panggilku sembari aku melepas sepatuku dan duduk di sofa ruang tamu.
           Namja tadi menghampiriku dan duduk didepanku, ‘’umma……’’panggilnya mengikuti nadaku sewaktu aku memanggil umma dan appa tadi. ‘’siapa kau?!!’’bentakku aku tak tahan lagi dengannya pertama ali bertemu saja dia sudah membuatku jengkel. ‘’perkenalkan nona Sulli-ah aku Taemin’’ucapnya, suaranya memang seperti anak kecil tapi tubuhnya tinggi aiihh aku kira tadi uppa dan umma ingin menjodohkanku lagi. Aku menghea nafas Karen atenang mendnegar pernyataannya barusan, ‘’dan siapa kau Taem?’’tanyaku lagi sambil memain-mainkan hp ku. ‘’aku kan sepupumu masa kau tidak ingat?’’tanyanya balik.
           Aku tidak sengaja membanting handphone ku ke lantai dan menatapnya dalam-dalam, ‘’mwo? Itu kau?’’tanyaku lagi, sampai aku baru menyadari senyuman begitu lebar terlukis dibibirku ketika kuletakkan kedua telapak tanganku kepipiku. ‘’ne, yang semasa kecil kau menendang bokongku membuatku terjatuh ke kolam’’gerutunya sambil menjulurkan kakinya kemeja dan merogoh tasnya. Aku tertawa dan bangkit dari dudukku akupun memeluknya dengan kencang, sudah lama sekali aku tak melihat Sepupuku yang satu ini.
           ‘’arggh arghh eon sakit eon!’’ujarnya seraya mencoba melepaskan lenganku yang masih memeluknya dengan erat, setelah aku mendnegar nafasnya ngos-ngosan akupun melepasnya. ‘’omo kau tinggi sekali sekarang’’ucapku sambil sibuk menyamakan tingginya dan tinggiku. ‘’minum susu donk eon, jangan lupa lari pagi juga’’jawabnya sambil mengeluarkan senyumannya. ‘’hei kau sudah bertemu appaku dan ummaku?’’tanyaku berjalan melihat ketangga untuk mengintip lantai 2. ‘’ne, tadi pagi sih katanya mereka hari ini pulang malem’’
aku berjalan kedapur untuk mengambil jus jerukku yang kubuat kemarin sore.
*
Sooyoung POV.
           Hatiku terasa hancur mendnegar pernyataan Jiyeon tadi, kini aku hanya bisa menangis aku salah selama ini mengira oppa Seung menyukaiku. Apa aku memang tidak ditakdirkan untuk bersama orang yg aku cintai? Baiklah, umma mengajariku sedari dulu untuk mempercayai takdir, aku mempercayainya memang aku tidak ditakdirkan untuk bersama orang yg aku cintai.
           Dengan cepat aku bergegas berlari kekamarku dan mengunci pintunya, saat ini aku membutuhkan waktu untuk menyendiri aku bahkan tidak yakin apakah nanti malam aku akan datang kerumah Jiyeon. Aku berjalan kelemari dan mengambil sebuah foto yg suda kusut yg kusimpan di antara tumpukan pakaianku

Itu adalah foto oppa Minho dan seseorang aku tidak yakin apakah dia Yeoja atau Namja. Tapi mereka kelihatan sangat akrab. Foto itu aku temukan ketika aku sedang melihat daftar kelulusan sekolah dan tiba-tiba saja foto itu bertebangan dan jatuh didepan sepatuku. Oppa Minho kelihatan tampan sekali, jadi aku memutuskan untuk menyimpannya saja.
           Air mataku terus mengalir deras. Aku juga sudah lama ingin bersama orang yang aku cintai, mungkin aku tidak ditakdirkan bersama oppa Seung. Kurogoh ranselku yang tergeletak diranjang untuk mengambil dompetku, lalu kuletakkan foto itu kedalam dompetku.
‘’dok dok dok’’tiba-tiba saja seseorang mengetuk pintu kamarku, ah aku rasa waktuku untuk menyendiri sudah cukup aku akan keluar dan mengobati luka hatiku.
           Aku berjalan menuju pintu dengan menyeret telapak kakiku yang masih enggan untuk keluar. ‘’ckrek ckrek’’ ternyata eonni Hyo yang mengetuk pintuku. Aku mengusap air mataku yang masih tersisa disekitar mataku, ‘’waeyo? Ya! Kau menangis?’’tanya eonni Hyo menuntutku, ‘’mwo? Ani aku . . .’’ucapku terputus karena jari telunjuknya mendarat dibibirku. ‘’aku sudah dengar kok. Seung baru saja pulang, dia bilang tadi dia menjadi Namjachingunya Jiyeon-ssi’’ucap eonni Hyo sambil mengelus kepalaku
‘’syukurlah’’jawabku sambil menyunggingkan senyumku yang terasa berat aku juga menahan air mataku yang mulai membendung lagi
‘’gwenchana, hentikan tangisanmu. Aku akan bantu bagaimana caranya supaya kamu tidak sakit hati lagi’’
           akupun langsung memeluk eonni Hyo dengan erat. Airmataku yang tadi membendung akhirnya keluar lagi dan membasahi pundaknya. Kurasakan tangan lembutnya membelai rambutku. Eonni Hyo memanglah bukan orang yang terlalu perhatian bila di tempat umum, tapi jika sudah dirumah seperti ini, ia bahkan juga akan ikut menangis seakan a merasakan apa yang dirasakan keluarganya.
*
           Sore ini matahari masih bersinar terang, langit begitu cerah tak ada sedikit awanpun yang menghalangi langit. Aku duduk dikursi depan rumah sambil memandangi matahari sore yang sebentar lagi terbenam, kini pukul 6p.m aku juga membawa handphoneku dan kuletakkan dimeja depan kursi yang aku duduki.
‘’Youngie??’’panggil eonni Tae dari rumah, ia berjalan kearahku
‘’waeyo?’’tanyaku sambil menegakkan tubuhku
‘’eonni ada acara mala mini kepesta ulangtahun teman, kau jadi kerumah Jiyeon-ssi?’’
aku hanya mengangguk lemas
‘’eonni sudah masak Sup buntut didapur, eonni simpan dilemari makanan jika kau lapar makanlah’’ucapnya lagi
‘’ne, gomapta eonn’’jawabku
           Eonni Tae lalu pergi mengambil sepeda berwarna biru tua miliknya lalu pergi, tampak eonni Hyo berdiri didepan pintu rumah sambil mengawasiku, ‘’eonn?’’panggilku, ia tampak membawa 2cangkir minuman dan membawanya kearahku, ‘’nih Lemon Tea buatanku sendiri katanya sih bisa membuat diri menjadi tenang’’ucapnya seraya menydorkan salah satu cangkirnya padaku, ‘’gomapta’’jawabku dan menaruh cangkir itu dimeja disamping handphoneku.
‘’bruk’’eonni Hyo dengan santainya merebahkan tubuhnya dikursi kayu yang sudah lumayan tua ini membuatnya berbunyi sedikit keras
‘’pelan-pelan eon duduknya’’ucapku, tanganku sibuk mencari gagang cangkir yang aku taruh tadi aku berniat untuk mencobanya
‘’eh! Aku kan ada kompetisi dance minggu depan, kau datang yah’’tawar eonni Hyo
‘’eh? Tapi kan aku juga ada acara music minggu depan, eon sendiri juga tdak mau datang kan keacara musikku’’ledekku
‘’hanya bercanda chingu’’
*
           Aku resah sekali, apa mala mini aku akan datang kerumah Jiyeon. Sekarang baru pukul 7p.m jacketbulu ku sudah menututupi tubuhku, aku juga mengenakan jeans biru donker. Aku bingung jadi aku duduk saja dulu di anak tangga paling bawah untuk memikirkannya sekali lagi.
‘’eh? Youngie?’’ucap seorang Namja disampingku tiba-tiba, aku tak ingin melihat wajahnya ia pasti oppa Seung


           ‘’hei mau kemana Saeng? Malam-malam begini sudah memakai jacket bulu tebal perasaan cuaca kan panas’’sambungnya membuatku sedikit jengkel. Sebenarnya bukan salahnya juga sih jika ia menjadikan Jiyeon sebagai Yeojachingunya. Kulipatkan lenganku melingkari kakiku yang kutekuk sambil menahan air mata yang mulai membendung lagi.
‘’ya! Kau tak apa?’’tanya oppa Seung lagi, kini aku benar-benar tak bisa membendung air mataku lagi kubiarkan saja airmataku berjatuhan mulai membanjiri wajahku, karena aku tak ingin oppa melihatnya jadi aku menenggelamkan kepalaku diantara kedua lututku
‘’kau ada masalah?’’tak henti-hentinya oppa Seung terus saja menuntutku untuk menjawabnya
           ‘’ya! Ceritakan saja, aku pasti akan membantumu’’tawarnya lagi. Aku merasakan tangan dingin oppa Seung memegang telapak tangan kiriku yang kulipat untuk membantuku menenggelamkan kepalaku, langsung saja aku terkejut dan aku langsung aku bangkit dan membuang tangannya menjauh dariku, tampak arutnya sangat terkejut. ‘’waeyo? Waeyo oppa harus Tanya! Urus urusan oppa sendiri!’’ucapku sedikit membentak, matanya terbelalak mendengar ucapanku barusan.
           Nafasku tidak tenang, aku langsung bergegas pergi darinya, aku mendengar panggilannya berkali-kali tapi tak kuhiraukan aku lebih memilih untuk pergi saja dari sini. Akhirnya aku sampai diluar, aku berjalan semakin lama semakin cepat, tapi kurasa akan buang2 waktu aku merasa aku seperti orang yang sedang dikejar mimpi buruk kakiku menuntunku terus berjalan dan aku tahu ini jalan kearah mana, kerumah Jiyeon-ssi.
*
           Suasana begitu sepi, sepertinya eonni Seo belum pulang hanya ada Jiyeon dirumah. Kami duduk dikamarnya sambil membaca buku komik milik Jiyeonssi. ‘’kukira kau ta datang Youngie’’ucapnya pelan sambil membolak-balikkan halaman komiknya, ‘’ne, tapi aku kan sudah bilang aku akan senang’’jawabku singkat, mataku terus tertuju pada setiap huruf2 yang ada dikomik ‘’Hi Miiko’’yg kini ditanganku. ‘’ne, oh ya kamu mau mencicipi cooki ku duluan atau menunggu Sulli ah?’’tanyanya menututp komiknya
‘’ummm,, ani nanti menunggu sulli aja’’
‘’apa dia benar-benar datang?’’
‘’aku percaya padanya, selama ini ia selalu membuktikan perkataannya kan’’
‘’ne, kau benar juga’’
           Suasana langsung berubah ketika saengnya Jiyeon-ssi sudah pulang, ‘’aaaakuuuuu puuu---llllllaaaaaannnggggggg’’ucap seseorang dengan nada lambat dari luar pintu kamar Jiyeon suaranya masih sangat muda sepertinya itu Saengnya Jiyeon, ‘’mwo? Baekh bagaimana pertandinganmu kali ini?’’tanya Jiyeon seraya berjalan kearah pintu kamarnya, tangannya meraih gagang pintu dan membukanya
‘’Chukkae!!’’ujar Baekhyun sambil memeluk Jiyeonssi dengan erat’’

~To Be Continued~

1 komentar:

  1. aku juga minsul shipper
    ini blog aku
    http://lindamarklinda13.blogspot.com/?m=1
    di sana semua ff main castnya minsul hehehe,,

    BalasHapus